Disebut‑sebut sebagai salah satu kandidat yang maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018, Ketua DPD Partai Golkar Kaltim Rita Widyasari menyatakan siap bersaing memperebutkan kursi yang bakal ditinggalkan Awang Faroek Ishak.
Meski demikian, Rita menegaskan penetapan calon gubernur akan dibahas dalam Raker DPD Golkar Kaltim di Berau, 10 hingga 12 Februari mendatang.
“Raker yang dihadiri DPP nanti sekaligus ada menetapkan calon gubernur. Saya nggak pernah bilang mau maju, tapi pasti disuruh maju,” kata Rita kepada Tribun, Rabu (1/2/2017).
Menurut Rita, untuk memastikan maju dalam Pilgub Kaltim 2018 tetap menunggu hasil survei. Hal serupa juga berlaku untuk kandidat yang bakal diusung Partai Golkar pada tahun yang sama tidak terkecuali menentukan pendamping (calon wakil).
Berdasarkan hasil survei pertama, menempatkan Bupati Kutai Kartanegara ini di urutan pertama dengan hasil 55 persen, sementara urutan kedua hanya mencapai 16 persen. Survei tersebut berlangsung pada Oktober 2016 lalu. Dengan hasil tersebut, menandakan dirinya telah banyak dikenal, sehingga langkah selanjutnya melakukan penambahan jaringan‑jaringan saja.
Untuk calon pendampingnya, Rita mengakui hingga saat ini setidaknya telah dilamar enam kandidat yang mengajukan diri menjadi wakilnya nanti. Salah satu kandidat yang melamar mantan Kapolda Kaltim.
Rita dan tim Golkar Kaltim saat ini tengah menggodok nama‑nama yang akan mendampinginya sebagai bakal calon wakil gubernur. Rita pun masih mempertimbangkan calon figur yang cocok. Calon yang dipilih juga wajib memahami birokrasi untuk membantu dirinya menjalankan roda pemerintahan.
Sejumlah nama tokoh yang beredar dan siap mendampingi Rita di Pilgub Kaltim mendatang antara lain Makmur HAPK, Sofyan Hasdam, Rizal Effendi, Yusran Aspar, Syahrie Jaang, Rusmadi, dan belakangan muncul mantan Wakapolda Kaltim.
“Harus sesuai dengan saya. Saya selalu mencari wakil pria, pekerja dan nggak suka politik seperti Pak Edi (Wakil Bupati Kukar), orangnya kerja kerja, saya biar yang urusan politiknya. Saya nggak harus seperti orang birokrat tapi dia harus mau bekerja mewakili saya. Yang jelas tidak artis, ngapain artis, yang ada hanya pencitraan terus,” tuturnya.
Rita menambahkan, penentuan calon wakil menunggu hasil survei. “Saya akan masang baliho Rita mencari wakil, sayembara,” katanya.
Sejauh ini tim pemenangannya sudah melakukan komunikasi dengan tim lainnya untuk membahas suksesi menuju Pilgub Kaltim nantinya. Termasuk menjalin komunikasi intens dengan beberapa tokoh dan parpol.
“Pak Rizal juga bagus. Komunikasi sudah berapa kali termasuk tim saya. Kalau untuk peluangnya salah satunya dengan mantan Wakapolda Kaltim, termasuk pak Rizal, ” ungkap Rita.
Dia menegaskan, Golkar menginginkan kepala daerah dengan calon wakilnya seorang pekerja, bukan politisi. Tetapi bukan berarti menutup kader yang lainnya.
Tunggu Restu DPP
Walikota Samarinda yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Kaltim Syaharie Jaang menegaskan dirinya siap maju Pilgub Kaltim 2018. Hal itu diungkapkan Jaang saat ditemui Tribun, usai menghadiri Perayaan Imlek di Yayasan Yong Jing Samarinda, Rabu (1/2/2017).
Meski sempat ragu, Jaang juga menegaskan dirinya akan maju sebagai calon gubernur.
“Ya lihat nanti,” kata Jaang saat ditanya apakah dirinya pasti mencalonkan diri sebagai calon gubernur. “Ya namanya maju pilgub pasti kita maju sebagai calon gubernur. Kok ditanya wakil,” kata Jaang, buru‑buru meralat pernyataan sebelumnya.
Soal parpol, menurut Jaang sampai saat ini pun belum ada kepastian resmi. Pun demikian dengan restu dari DPP Demokrat belum kunjung dikantongi Jaang.
“Secara lisan ada restu (DPP Demokrat). Tapi saat ini DPP masih konsentrasi di 101 daerah Indonesia yang juga menggelar Pilkada 2017. Mungkin nanti setelah 15 (Februari) sudah ada kepastian,” ungkap Jaang.
Namun, Jaang terlihat tak terlalu memprioritaskan Pilgub Kaltim sebagai tujuan utamanya saat ini. “Apa sih pilgub itu. Kan hanya amanat UU saja. Bahwa, UU mengatur periode kepemimpinan di suatu daerah,” kata Jaang.
Bertemu dengan sejumlah tokoh yang juga digadang‑gadang maju di pilgub, menurut Jaang tak lebih dari sekadar kebetulan semata. Beberapa hari lalu, Jaang sempat bertemu Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar di Bandara Internasional AM Sulaiman Sepinggan.
“Biasa saja itu (bertemu Yusran). Dengan siapapun kita bertemu, selalu saya sapa. Bertemu pak Yusran, bertemu Rita (Rita Widyasari) dan siapapun, saya selalu menyapa dan silaturahmi. Toh bertemunya tidak dalam agenda resmi,” urai Jaang.
Sikap tersebut dilakukan Jaang agar perhelatan pilkada, tidak berdampak pada perpecahan masyarakat. “Ini kita harus terjemahkan ke masyarakat. Jangan sampai karena pilgub kita terputus silaturahim dan komunikasi. Kita di elit harus tunjukkan itu,” tegasnya.
Terkait figur pendamping, Jaang tak mematok kriteria tertentu. Bagi Jaang, dirinya bisa bekerjasama dengan siapapun. Catatannya, calon pendamping juga harus memiliki komitmen membangun daerah. “Saya ini bisa kerja dengan siapa saja. Jadi saya tidak menentukan kriteria yang aneh‑aneh. Yang penting sama‑sama mau bekerja untuk masyarakat,” katanya lagi.
Walikota Samarinda dua periode ini juga enggan membeber hasil survei internal yang dilakukannya. “Itu rahasia. Ibarat sepakbola, bisa lah kita masuk ke gelanggang,” katanya.
Jaang juga tampak tak terlalu berambisi untuk menduduki posisi Kaltim 1. “Apa juga yang dicari. Kita ini meninggal tidak membawa apa‑apa. Di nisan pun tidak ditulis bahwa orang ini pernah jadi walikota dua periode dan wakil walikota dua periode,” ucapnya.
=====================================================================
