background img

The New Stuff

Curhat Mengejutkan Staf Jokowi, Katanya Kerja di Istana, Kok Becek!


Presiden Joko Widodo sangat terkenal sebagai pribadi pekerja, gesit, suka blusukan, dengan prinsip yang sangat dikenal publik yaitu Kerja…Kerja…Kerja!

Menarik untuk disimak curhat staf istana kepresidenan ketika harus menyesuaikan diri dengan gaya kerja Jokowi.

Berikut ini kutipan wawancara Darmansjah Djumala, selaku Kepala Sekretariat Presiden.

Dirinya mengaku gara-gara harus menyesuaikan diri dengan gaya kerja Presiden Jokowi, ia sempat diomeli keluarga terutama anaknya.

Berikut isi wawancara Darmansjah Djumala bersama TVRI seperti dikutip dari akun Youtube ID Show :

Bagaimana cara menyesuaikan diri dengan ritme kerja Presiden Jokowi yang selalu kerja-kerja -kerja?

Sebagai profesional yah kita haru smenyesuaikan diri. Memang kerjaan saya dulu sebagai diplomat Kementrian Luar Negeri. Yah kalau gak ngomong bukan diplomat namanya. Jadi harus banyak ngomong.

Tapi setelah masuk istana justru kita gak banyak ngomong, harus banyak kerja. Kerjanya pun kerja lapangan.

Karena mengingat karakter pekerjaan di istana ini, dalam melayani bapak presiden lebih banyak pergi ke lapangan, blusukan.

Suka-dukanya bekerja dengan Bapak Jokowi?

Kalau sukanya cuma dua, enak dan enak banget kerja di istana. Kalau dukanya adalah yaitu kesulitan kita menstransformasikan diri.

Banyak sekali yang harus kita menyesuaikan diri. Tidak usah jauh-jauh, contoh kecil dalam hal blusukan. Saya mempunyai pengalaman pribadi.

Ketika Pak Jokowi blusukan kita harus ikut sebagai sekretaris. Pulang malam, kita blusukan itu ke daerah suatu lapangan, dan saat sudah selesai, pulang malam, saya pulang ke rumah, tiba-tiba keluarga saya ngomel.

Bukan karena pulang malamnya, ada sesuatu yang aneh pada keadaan saya malam itu. Sepatunya jadi becek dan kotor.

Dia pikir istana itu adalah tempat yang bersih. Sampai ada komentar dari keluarga saya terutama anak saya,
Katanya ayah kerja di istana, kok sepatunya becek!

Di sinilah bagaimana perubahan gaya kerja dari biasanya di dalam ruangan menjadi blusukan, itu artinya kita harus menyesuaikan diri dan mentrasformasi diri.

Maknanya disini adalah bagaimana pekerjaan presiden itu berorientasi kepada rakyat. Rakyat ada di lapangan, yah kita temui mereka di lapangan.

Ada di sawah, yah kita temui di sawah. Karena itulah sepatu jadi becek.”

Apa perubahan istana yang dulu dan sekarang?

Istana itu sebagai istana rakyat, kemudian sedehana, dan mudah diakses oleh semua segmen masyarakat.

Itu sudah kita lakukan dalam berbagai kegiatan di istana seperti ketika 17 Agustus.

Dulu dalam acara 17 Agustus persentase pejabat 70 persen dan rakyat 30 persen, sekarang kita balik yaitu 70 persen rakyat, dan 30 persen pejabat. Disinilah menunjukan bahwa istana membuka diri terhadap keterlibatan masyarakat dalam perayaan hari-hari nasional.

Istana itu adalah kembali ke rakyat, adalah untuk rakyat.




Popular Posts