Tangisan Janice Pada Ayahnya: Kenapa Papa Tega Penjarakan Mama?
Permasalahan suami istri hendaklah diselesaikan dengan cara bijak agar tak berdampak buruk bagi anak-anak mereka. Hal in juga yang dialami oleh suami istri Gunawan Angka Widjaja dan Trisulowati alias Chinchin. Kasus suami istri ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pengusaha di Surabaya. Chinchindikenal sebagai wanita karir yang ulet dalam menjalankan Empire Palace yang berlokasi di pertigaan jalan Embong Malang-Blauran.
Sang istri dipenjarakan oleh sang suamianya sendiri. Masalah keduanya membuat sejumlah rekan-rekan mereka ikut prihatin.
"Chinchin bilang, sejak Juni 2016 sudah ingin cerai, karena sering dihajar. termasuk anak-anaknya ada yang disiram kuah bakmie panas," ungkap seorang teman.
Chinchin, sempat mengatakan pada Gunawan, silakan sahamnya di PT Blauran Cahaya Mulya (BCM) pengelola Empire Palace Surabaya, diambil semua, asal permintaannya cerai dikabulkan.
"Chinchin, mau keluar rumah yang dibangun bersama tanpa harta. Tapi Gunawan, tak mau. Ini kan aneh? ada apa?. Makanya saya heran, Polisi kok tega menahan perempuan yang selama ini sering digebuki suaminya," tanya wanita muda yang membesuk Chinchin.
"Chinchin tak tahan sudah bekerja siang malam masih di KDRT. Yang menyakitkan anaknya juga dipukuli," tambahnya.
Chinchin, direktur utama PT Blauran Cahaya Mulya, telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Satreskrim Polrestabes Surabaya. Sangkaan Polisi, perempuan 46 tahun ini dituduh melakukan pencurian dokumen PT BCM serta penggelapan dalam jabatan. Selain itu, Chinchin juga akan ditumpleki empat kasus baru. Konon ada sejumlah korbannya melaporkannya ke Mapolda Jatim.
"Kenapa Papa tega penjarakan Mama?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Janice.
Bocah 14 tahun itu adalah anak pertama pasangan Gunawan Angka Widjaja dan Trisulowati alias Chinchin. Sambil terus terisak, dia memberondong ayahnya yang mengunjunginya di salah satu ruko kawasan Kedungsari.
Isak tangis membuat kata-kata yang dilontarkannya terpatah-patah. Air matanya tidak kuasa dibendung. Dua adiknya, James dan Lawrence, tak kalah sedih. Tangis mereka hampir tak pernah berhenti pada pertemuan selama hampir 1,5 jam itu.
"Kami cuma minta satu, Pa. Keluarkan Mama dari penjara," pinta Lawrence sambil mengusap dua matanya yang sudah sembap.
Ayahnya yang saat itu di depan mereka berupaya menjelaskan. Bahwa ibu mereka dipenjara bukan lantaran Gunawan.
"Papa ndak tahu. Ndak ikut-ikut," ungkap Gunawan. Tapi, dia tetap diberondong puluhan pertanyaan oleh tiga darah dagingnya itu.
Disaksikan Ketua Divisi Data dan Riset Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur Isa Anshori, tiga anak itu malah kecewa. Ayahnya dianggap tidak pernah memberikan jawaban yang jujur dan sesuai fakta. Mendapat jawaban yang tidak memuaskan, tiga anak tersebut memilih pergi.
"Papa ngajari kami jujur. Tapi, Papa sendiri tidak pernah jujur," keluh James yang selalu memegangi mukanya ketika ayahnya menjawab pertanyaannya.
Karena pertemuan itu, Janice mengaku kapok bertemu dengan ayahnya. Padahal, awalnya dia mengaku senang bisa ketemu ayahnya setelah dua bulan tidak bertemu. Dia berpikir bahwa ayahnya punya itikad baik untuk menyelesaikan masalah.
"Malah hasilnya memperkeruh suasana,"sesalnya.
Gadis kelahiran Surabaya itu mengaku meninggalkan ayahnya karena merasa tidak aman. Sekitar dua bulan lalu, salah seorang kerabat ayahnya masuk ke kamarnya tanpa izin sekitar pukul 02.00 dini hari. Hal tersebut membuat dia takut.
"Aku ndak lari. Justru menyelamatkan diri. Kalau di Empire terus, ngerasa ndak aman," ujarnya.
Untuk itu, dia mengaku kapok. Dia berharap pertemuan kemarin adalah yang terakhir. Gadis yang masih duduk di kelas IX itu kecewa dengan pertemuan yang tidak sesuai harapannya tersebut.
"Aku cuma berharap masalah ini cepat selesai. Mamaku keluar dari penjara," harapnya.
Sementara itu, Gunawan mengaku rindu kepada tiga anaknya. Untuk itu, dia rela menunggu 3,5 jam.
"Sudah sangat lama ndak ketemu. Saya kangen mereka," bebernya.
Selain itu, pria asli Surabaya tersebut mengaku khawatir dengan keadaan anaknya. Karena itu, dia membawakan makanan favorit dan obat untuk anaknya. Usahanya selama ini menitipkan kepada salah seorang pegawai selalu ditolak. Untuk itu, dia berinisiatif mengantar sendiri.
Gunawan membawakan Janice pastel, kroket, dan daging asap. James dibawakan sosis brood. Untuk Lawrence, dibungkuskan puding. Khusus untuk James, ada obat pertumbuhan yang dibawakan langsung dari Hongkong.
"James butuh tambahan asupan vitamin agar lebih cepat besar," terangnya.
Gunawan juga mengaku tidak rela anaknya dieksploitasi. Melakukan hal-hal yang tidak jelas tujuannya untuk apa. Padahal, saat ini mereka masih sekolah dan sedang ujian.
"Anak saya kan besok ujian. Kenapa sekarang dibawa keluar-keluar?" tanyanya.
Pria 48 tahun itu berpesan kepada karyawan Chinchin yang selama ini menjaga ketiga anaknya agar mereka tidak diajak ke acara yang tidak jelas. Kecuali untuk sekolah, ekstrakurikuler, dan belanja.
"Itu kan cuma untuk ngamen. Jangan gitu," sesalnya.
Dia menganggap bahwa anaknya sudah diajari oleh seseorang untuk membenci dirinya. Bahkan, mengarang cerita-cerita palsu yang memojokkan dirinya. Padahal, selama ini dia merasa menjadi korban.
"Seakan-akan ayahnya ini sadis. Diajari yang enggak-enggak," keluhnya.
Kuasa hukum Chinchin dan anak-anaknya, Nizar Fikkri, tidak mau banyak berkomentar. Menurut dia, apa yang dikatakan anak-anak sudah menjadi fakta yang lebih kuat.
"Sesuai permintaan anak-anak saja lah, Mas. Itu sudah cukup," tuturnya.
Dia menyadari, jika harus mencabut perkara sangat sulit, Gunawan bisa membantu penangguhan penahanan kliennya.
"Kalau anak-anak senang, itu sudah cukup membuat kami sedikit lega," ujar pria 28 tahun tersebut.
Sementara itu, Isa Anshori berharap masalah tersebut bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Sebab, tiga anak tersebut terlihat sangat tertekan. Dia menganggap ekspresi yang ditunjukkan ketiga anak selama bertemu dengan ayahnya adalah sebuah akumulasi.
"Ada proses panjang yang membuat semua dituangkan secara blak-blakan oleh ketiganya," tutur lulusan S-2 Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) tersebut.
Isa berharap tiga anak tersebut tidak lagi tertekan. Itu bisa mengancam masa depan mereka. Untuk itu, pihaknya berjanji selalu mendampingi mereka. Misalnya, kemarin kunjungannya didahului telepon dari anak-anak tersebut.
"Mereka mengaku ketakutan ketemu ayahnya sehingga saya mendampingi," kisahnya.
Lelaki yang juga mengajar di Sekolah Tinggi Teknologi Malang itu berharap ayahnya bisa memahami kondisi anak-anak. Dengan demikian, ada pemikiran lain. Bagaimana bisa memenuhi harapan anak-ananya. Pertimbangan utama tetap kondisi anak.
"Semoga Pak Gun juga bisa memahami perasaan anak-anaknya," harap pria 50 tahun tersebut.
PENDAFTARAN TOGEL AGEN TOGEL PROMO TOGEL MAIN TOGEL INFO TOGEL BUKU MIMPI TOGEL TOGEL PHNOMEPENH TOGEL JEJU TOGEL BRUNEI TOGEL PATTAYA TOGEL SYDNEY TOGEL HANOI TOGEL NAGASAKI TOGEL SINGAPORE TOGEL CAMBODIA TOGEL HONGKONG PROMO TOGEL CARA MAIN TOGEL BANDAR TOGEL
